Pengajian anak-anak di makam rangkah Surabaya. Foto: FIB UNAIR

Mantan napi bina pengajian

Jika niat sudah bulat, keterbatasan fasilitas bukan masalah berat. Belajar agama di lahan makam pun jadilah. Itu yang dilakukan komunitas pemulung kawasan Rangkah. Pembinanya, mantan narapidana.

SUARA mengaji Lamat-Lamat terdengar dari Makam Rangkah, Tambaksari. Bagi yang tak biasa dengan area tersebut, bisa jadi suara itu menciptakan suasana tersendiri. Apalagi, malam Jumat.

Lafal ayat-ayat suci itu semakin jelas ketika memasuki areal makam. Dan, di sebuah sudut, sekitar 90 ibu-ibu duduk melingkar di hamparan terpal di antara nisan. Mereka khusuk mengaji. Sebuah backdrop sederhana terpampang dengan tulisan Pengajian Tombo Ati. 

”Pengajian ini kami adakan setiap malam Jumat setelah magrib,” kata Husin, 57, pembina pengajian tersebut. Setelah mengaji, acara itu dilanjutkan dengan pengajian. ” Ustadnya dari YDSF (Yayasan Dana Sosial Al Falah, Red.),” lanjutnya.

Pengajian tersebut sudah berlangsung sejak 2000

”Semula yang kami ajak bapak-bapak, tapi hangat-hangat tahi ayam,” kata pria kelahiran Bangkalan itu. ”Awalnya rajin, tapi lama-lama nggak ada yang datang. Barokah Allah, ibu-ibu justru bersemangat mengaji, “lanjutnya sambil menghisap rokok kretek.

Husin memang cukup berperan pada keberadaan pengajian tersebut. Karena itu, dia didaulat menjadi pembina. ”Karena anggotanya ibu-ibu, biarlah ibu-ibu yang mengurus, saya mensuport saja,” kata bapak enam anak itu.

Sesuai namanya, Tombo Ati yang artinya obat hati, pengajian itu menjadi pencerah bagi penghuni kawasan tersebut. Sudah puluhan tahun Makam Rangkah dihuni para T4 (tempat tinggal tidak tetap). 

”Selain pemulung, yang tinggal disini adalah para gepeng, PSK, pengamen, juga tukang monyet keliling. Tapi, sekarang sudah berkurang,” kata Husin. ”Dulu, di sini sarang penyamun,” tambahnya. Untuk Husin, aroma kriminalitas di daerah itu bukan hal asing.Sebab, dia sudah 45 tahun tinggal di areal makam tersebut. 

Mantan napi bina pengajian

Kehadiran kelompok pengajian itu sekaligus memberi kesan bahwa penghuni kawasan itu tidak semuanya kriminalis. ”Saya lihat ada peningkatan sopan santun di antara penghuni. Mereka juga lebih menghargai orang lain,” kata Masrifa Rahma, salah seorang pembicara.

Meski dia belum tahu jelas hasil kongkret studi itu, namun Husin bersyukur. ”Dulu, kami (peserta studi, Red.) Terlantar, makan saja susah. Sekarang sudah mendingan ada donatur yang menyumbang,” katanya. 

Kontribusi kebutuhan sehari-hari itu datang dari YDSF. ”Tahun lalu, kami bahkan diberi pinjaman tanggung renteng Rp10 juta dan tujuh rombong untuk penjualan,” tuturnya. 
Selain membentuk kelompok pengajian, lanjut Husin, YDSF juga memberikan beasiswa untuk anak pemulung dari SD-SMA dan pelatihan wirausaha. ”Yang ikut pelatihan itu dapat pinjaman modal,” katanya. 

Anak-anak lebih berarti

Dia berharap anak-anak yang saat ini menghuni daerah itu, suatu saat menjadi orang yang lebih punya arti. ” Mungkin ada yang jadi dokter atau kantor, gitu,” harap Husin. 

Namun, perjuangan tak sepenuhnya mulus. ” Ada orang-orang yang ngompori peserta pengajian, katanya saya memanfaatkan mereka,” kata Husin. ” Orang-orang itu ngomong, tidak semua bantuan yang datang saya salurkan kepada kelompok. Tapi, saya pakai sendiri,” sambungnya. 

Semua tuduhan itu, kata Husin, tidaklah benar. ” Saya tidak akan tidur di rumah sebelum anak-anak pantauan saya tidur di rumah berlantai,” ujarnya. Maksud Husin tidur di rumah sesungguhnya. Sebab, saat ini mereka tidur di rumah petak berlantai tanah. ” Saya menganggapnya sebagai perang. Dan, saya siap menghadapi,” tegasnya.

Husin tak sanggup membendung air matanya saat mengenang asal mula berdirinya komunitas pengajian itu. ”Saya masih ingat. Sekitar tujuh tahun lalu, saya kedatangan tamu, namanya Pak Hamy, “tutur Husin. Maksudnya, Hamy Wahjunianto, direktur YDSF. ”Waktu itu saya belum kenal beliau,” tambahnya. 

Tiba-tiba di luar rumah petak Husni terdengar suara tangis. ” Saya keluar rumah, ternyata anak tetangga. Dia mengadu kepada ibunya, diminta gurunya agar segera melunasi uang sekolah. Tapi, ibunya tak punya uang,” cerita Husin. 

Anak yang masih duduk di kelas dua SMP itu ingin terus sekolah. ” Saat itu menjelang ulangan umum. Dia harus ikut, syaratnya uang sekolah harus dilunasi,” kata Husin. ” Saya bingung karena tak bisa membantu,” tambahnya. 

Donasi kemanusiaan untuk napi bina pengajian

Di tengah kegalauan itu, Hamy mengeluarkan lembaran Rp 50 ribu kepada ibu anak tersebut. Padahal, si anak hanya butuh Rp 25 ribu. ” Kami belum mengenal Pak Hamy, tapi dia begitu baik, mau menolong orang yang membutuhkan. “Tambah Husin. Ibu anak itu, Muayanah, kini menjadi ketua Pengajian Tombo Ati. Dia dibantu seorang sekretaris, Sumbringah. 

Mengapa Hamy bertamu ke rumah Husin? Ternyata, lembaga zakat yang berkantor pusat di Surabaya itu sedang mencari daerah binaan. ” Kawasan Rangkah memang salah satu binaan kami,” kata Humas YDSF Wirawan. 

Pertemuannya dengan Hamy semakin menguatkan tekad Husin untuk berubah menjadi orang baik-baik. Di area itu, Husin dikenal sebagai mantan kriminal yang bekali-kali keluar masuk penjara. ” Saya pernah ditahan di Nusakambangan selama delapan setengah tahun,” katanya. 

Jalan taubat mantan napi bina pengajian

Pria berkulit gelap itu mengaku sudah menjadi kriminalis sejak usia 15 tahun. Belum sempat lulus SD dia meninggalkan kota kelahirannya, menyeberang ke Surabaya. ” Saya ingin tahu Surabaya. Sampai di sini tak tahu jalan, terlantar. Akhirnya saya diasuh pencari puntung rokok,” cerita dia. 

Sekitar tiga tahun Husin diasuh pemulung itu. “Setelah dia meninggal. Saya tak tahu arah sehingga terjebak pada pergaukan yang tidak benar,” katanya. “Mungkin istilah sekarang ya … kenakalan remaja,” lanjut dia.

Sejak itu, segala aktifitas kriminalitas dia lakukan. Mulai menjambret, menodong, mencuri, sampai percobaan pembunuhan. ” Dulu saya menganggap harta orang di jalanan itu juga harta saya,” katanya. ” Jadi, saya bebas mengambil,” tambahnya. Tak kurang delapan kali Husin masuk penjara. Kali terakhir dia ditahan di Medaeng dan keluar pada 1997.

Mendekati hari kebebasannya, terjadi kebakaran di Medaeng. ”Waktu itu saya di dalam tahanan. Saya takut sekali. Saat itulah saya teringat kematian dan ingin bertobat,” katanya. Kebakaran itu terjadi pada 11 Juli 1997.

Di hari-hari terakhir di tahanan itu, Husin bermimpi aneh. ”Dalam mimpi itu saya melihat sebuah tempat yang bagus sekali. Saya ingin sekali masuk, saya pun mendekat. Tapi, tiba-tiba sesosok putih bersayap menghampiri saya,” cerita Husin. ”Sosok putih itu melarang saya masuk, katanya saya masih kotor. Yang bisa masuk hanya yang sudah bersih,” lanjutnya. 

Ketika bangun, dia tercenung memikirkan mimpi itu. ” Lama saya renungi arti mimpi tersebut,” ujarnya. 

Suatu malam dia bangun dan salat tahajud. Dalam tafakurnya dia bertekad bertobat dan berbuat yang bermanfaat setelah keluat dari penjara. ”Agar terus ingat, saya prasastikan tekad itu dalam tubuh berupa tato, “ujarnya. Tubuh Husin memang penuh tato. Selain di wajah, juga di tangan, kaki, dan badan. 

”Tato-tato ini saya buat sejak muda,” katanya. Yang terakhir tato tobat yang ditoreh di pinggang belakang berupa tulisan. Bunyinya: demi anak istri aku akan tobat. Kini, meski hanya sebagai pembina pengajian, ada saja orang yang memanggilnya ustad. (Cfu)

Baca artikel menarik lainnya di sini.

Terpopuler

Leave a comment

Tinggalkan Balasan