Sepenggal sajak burung-burung kondor dalam pementasan Mastodon dan Burung Kondor.

Beribu-ribu burung kondor
Berjuta-juta burung kondor
bergerak menuju ke gunung tinggi
dan di sana mendapat hiburan dari sepi

Burung-burung kondor menjerit
di dalam marah menjerit
bergema di tempat-tempat yang sepi

Berjuta-juta burung kondor mencakar batu-batu
mematuki batu-batu, mematuki udara
dan di kota orang-orang bersiap menembaknya

Sajak burung-burung kondor

PENGGALAN puisi di atas saya ambil dari puisi WS Rendra berjudul “Sajak Burung-Burung Kondor.” Saya kutip dari buku saku yang saya peroleh di depan pintu masuk ruang teater Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Malam ini, 11 Agustus 2011, dipentaskan teater ”Mastodon dan Burung Kondor” karya Rendra.

Pementasan itu merupakan produksi ulang dari teater yang pernah dipentaskan Rendra pada 70an. Ketika itu, Orde Baru di tengah masa jayanya. Meski, ketidakpuasan atas kondisi sosial dan ekonomi bermunculan.

Karya Rendra ini merupakan kritik pedas terhadap penguasa ketika itu.

Mengambil latar peristiwa revolusi di Amerika Latin yang kental semangat perlawanan dan revolusi, wajar membuat gerah pemerintah kala itu. Ketika pemerintah menggalakkan program pembangunan yang mengagung-agungkan stabilitas, keamanan, dan ketertiban, muncul suara kritis. Tak ayal, pementasan pada 70an itu membuat gempar, sehingga dicekal penguasa.

Mastodon dan burung kondor adalah

Dalam buku panduan pementasan teater ini dikisahkan, Mastodon dan Burung Kondor adalah salah satu karya drama masterpiece Rendra yang ditulisnya dalam rentang 1971-1973.

Pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater pada 1973 di Kridosono Yogyakarta, Gedung Merdeka Bandung, dan Istora Senayan Jakarta.

Sebulan sesudah pementasan di Istora Senayan itu terjadi kerusuhan besar-besaran di Jakarta sebagai bangkitnya kesadaran mahasiswa menentang cengkeraman modal (kekuatan) asing, yang kemudian menyejarah dan terkenal dengan peristiwa 14-15 Januari 1974 atau MALARI.

Di beberapa media cetak disebutkan bahwa pentas Mastodon dan Burung Kondor karya Rendra ikut memicu kesadaran para aktivis Malari.

Sajak Mastodon dan Burung Kondor Rendra penyulut semangat

Rasanya, tak berlebihan anggapan bahwa karya Rendra ini telah memicu kesadaran para aktivis era 70an itu. Sepanjang pentas, saya larut dalam emosi yang dibawanya. Rasa marah, getir, dan sedih mendominasi.

Kritik bahwa tingginya angka pertumbuhan tidak berimplikasi pada kesejahteraan rakyat sungguh mirip kondisi saat ini.

Merinding, kala ditampilkan anak kecil yang harus hidup sebatang kara karena ibunya meninggal sebab sakit tak terobati. Sementara sang ayah yang protes karena kebijakan tak adil harus mendekam di penjara.

Visualisasi memelas sang bocah dipadu pencahayaan dan tata musik yang pas sungguh membuat terenyuh.

Adegan menyentuh

Adegan menyentuh jiwa juga terasa tatkala puluhan pemuda berbagai daerah berkumpul bertukar pikiran atas realitas sosial ekonomi yang melingkupinya.

Tatkala mereka melontarkan keresahan-keresahan yang lama terpendam.

Hingga, didapat satu kata sepakat menggelorakan: REVOLUSI.

Jalan cerita teater itu sebuah percobaan revolusi di Amerika Latin. Ide revolusi digagas seorang Profesor Topaz yang dijalankan kelompok pemuda dipimpin Juan Frederico.

Mereka ingin mengganti pemerintah yang berkuasa dimana ketika itu pemerintahan tentara yang terlalu berambisi melakukan pembangunan untuk mempertahankan kekuasaan.

Penindasan di mana-mana akibat ketakutan muncul pemberontakan. Penguasa itu disebut sebagai derak marah para mastodon.

Rakyat yang menderita akibat gelap mata program pemerintah mastodon itu dimaknakan sebagai burung kondor. Rakyat miskin, tertindas hingga akhirnya tidak tahan dan tersulutlah kemudian revolusi yang dimotori orang-orang kampus.

Hampir berhasil, ide revolusi itu mendapat tentangan seorang penyair berpengaruh Jose Karosta. Sang penyair mendakwahkan perubahan kebudayaan dengan jalan kekerasan tidak akan pernah sampai tujuan.

Pemimpin berubah itu lazim ternyata

Para pejuang revolusi bila telah berkuasa juga berpotensi menjadi diktator.

Rezim yang diruntuhkan pemerintahan pembangunan semesta berencana, kaum revolusioner setelah berkuasa akan memaksakan programnya dengan nama pemerintahan revolusioner semesta berencana. “Yang beda namanya saja,” kata Jose.

Sang sutradara, Ken Zuraida, mengaku terpanggil membangkitkan kembali Mastodon dan Burung Kondor ini karena dinilainya relevan dengan kondisi saat ini. Dia menyajikan teater ini sebagai kritik atas realitas sosial ekonomi saat ini.

“Saya membaca koran dan menonton berita bahwa para pemuka agama di Indonesia berbicara mengenai kondisi berbangsa dan bernegara di Indonesia. Nah! saya merasa bahwa naskah ini tepat untuk dipakai bicara,” tulisnya dalam booklet. [bakti.id]

Leave a comment

Tinggalkan Balasan