Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary

LAHIR 14 Agustus 1956. Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary menghabiskan usia remajanya di Pesantren. Di Pesantren itu dia selalu bersarung, rajin mengaji, membaca kitab-kitab kuning, tak suka pada hal-hal duniawi dan mendengar suara perempuan seperti melihat aurat.

Dia baru merapat ke dunia politik sesudah menjadi doktor di bidang Sejarah Peradaban Islam. “Saya dulu dikira akan menjadi ulama tradisional,” katanya kepada Arfi Bambani Amri dan Suryanta Bakti Susila dari VIVAnews. Diramalkan jadi ulama, kini Hafiz malah berkubang dalam dunia politik yang penuh intrik. Dia menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum(KPU), juru kunci gagal suksesnya Pemilihan Umum 2009.

Abdul Hafiz Anshary dibesarkan dalam keluarga tradisional di sebuah perkampungan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ayahnya bernama HA Zamza seorang pemilik kedai di kota itu. Walau amat memerlukan tenaga Hafiz, sang ayah mengirim putra pertamanya itu ke Pondok Pesantren Darussalam di Martapura, 45 kilometer dari Banjarmasin. Darussalam termasuk pesantren tradisional.

Di Pesantren itulah dia merampungkan Madrasah Mualimin, yang mengabungkan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Sebagaimana anak santri lainnya, saban pagi Hafiz tunaikan salat subuh berjamaah, mengaji dan mendalami kitab-kitab kuning.

Tapi Hafiz punya kebiasaan yang unik yakni selalu bersarung dan tidak mau memakai celana. Di kelas dia selalu mengenakan sarung. Dia juga membenci hal-hal duniawi. Mendengar musik dianggap tabu.

Suara perempuan dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dianggap seperti melihat aurat. ”Agar tidak dengar saya akan tutup telinga,” katanya mengenang saat diwawancara di ruang kerjanya, Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta, akhir September 2008 lalu.

Walau kurang berminat dengan politik, Hafiz senang dengan keriuhan kampanye. Tahun 1971- saat di mana pemerintah Orde Baru menggelar Pemilu pertama – Hafiz suka berjejalan dengan massa mendengar juru kampanye (Jurkam) berpidato. Jurkam idolanya adalah Habib Alwi Kwitang. “Satu jam berdiri tidak terasa capek” katanya.

Tapi Hafiz tetap menjadi seorang remaja yang beku. Selalu menyendiri, benci pada hal-hal yang duniawi. Sampai suatu saat dia berlibur ke rumahnya di Banjarmasin, sang ayah sewot. Pasalnya, Hafiz selalu menyendiri, tak peduli pada pembeli yang saban hari berjejalan di kedai ayahnya.

Sang ayah yang kecewa memaksa Hafiz ikut organisasi apa saja. Tujuannya cuma satu agar putrnya bergaul dan luwes. Hafiz manut. Kelas dua SMA dia masuk organisasi Kader Mubalig Muda, yang difasilitasi Departemen Agama. Di situ Hafiz mulai luwes. Dan yang paling penting, katanya, ”Saya mulai mengenakan celana panjang.” Tidak cuma celana, Hafiz muda juga mulai belajar pakai dasi.

Bakat pidatonya mulai diasah di organisasi ini. Dan lantaran pidatonya hebat, dia didapuk menjadi ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Hafiz jadi ketagihan berorganisasi. Saat kuliah di Fakultas Syariah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Banjarmasin, Hafiz ikut rupa-rupa organisasi. Mulai dari Komite Nasional Pemuda Indonesia(KNPI), Karang Taruna hingga pengurus Sahabat Pena Indonesia.

Lulus tahun 1982, Hafiz diminta petinggi kampus menjadi dosen. Dia setuju. Dua tahun mengajar dia terbang ke Jakarta, mengambil studi strata dua Sejarah Peradaban Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setamat kuliah, Hafiz kembali ke Banjarmasin. Bersama teman-temannya dia mendirikan sejumlah yayasan pendidikan Islam. Yayasan yang didirikan anak-anak muda itu memiliki Taman Kanak-Kanak, Sekolah Menengah Pertama, Madrasah Ibtidaiyah, Aliyah, Sekolah Menengah Atas dan perguruan tinggi.

Tahun 1990, Hafiz mengambil program doktoral di IAIN Syarif Hidayatullah. Hafiz sukses menuntaskan semua mata kuliah selama empat tahun. Tapi disertasinya terlunta-lunta lantaran diminta Dewan Pimpinan Daerah Partai Golongan Karya Kalimantan Selatan menjadi anggota Biro Kerohanian.

Dan di sinilah anak santri itu mulai bersekutu dengan politik praktis. Asyik berpolitik, Hafiz lupa dengan disertasinya. Malu pada dosen-dosen di Syarif Hidayatullah, Haifiz kembali ke Jakarta tahun 1998, setahun sebelum masa jabatannya di Golkar berakhir. Hafiz kemudian tekun menyelesaikan disertasinya. Sukses. Dia kemudian diwisuda sebagai doktor Sejarah Peradaban Islam.

Sesudah menjadi doktor, Hafiz berminat kembali ke kampusnya di Banjarmasin. Tapi rayuan Golkar tak kuasa ditolak. Si beringin memberi dua pilihan: Jadi ketua tim sukses calon gubernur atau maju menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Provinsi Kalimantan Selatan. Dan Hafiz memilih KPU. Dia kemudian terpilih menjadi ketua KPU Kalimantan Selatan. “Saya akhirnya tahu bahwa jadi pengurus Pemilu itu rawan hujatan,kecaman dan macam-macam.”

Anak santri itu terus merangsek di dunia politik. Tahun 2004 dia menjajal kemampuan menjadi calon Wakil Gubernur Kalimantan Selatan. Dia mundur dari KPU dan habis-habisan maju ke pemilihan. Dan dia gagal.

Tapi karir politiknya belum tamat. Tahun 2007 dia melaju ke pusat melamar menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum. Pengalaman sebagai ketua KPU Kalimantan Selatan jadi bekal. Dia menilai banyak hal yang harus diperbaiki oleh KPU pusat agar KPU daerah enteng bekerja. Misalnya peraturan tentang kampanye, pemungutan suara dan penetapan suara sah.

Hafiz pun sukses meraih kursi ketua KPU. Hari-harinya kini tidak lagi baca Al Quran dan kitab-kitab kuning tapi sibuk menyiapkan Pemilu. Undang-undang Pemilihan Umum dan Undang-undang Pemilihan Presiden sekarang bacaan wajibnya. Anak santri ini pun ‘tersesat’ lebih dalam di belantara dunia politik. [Baca juga santri pengawas pemilu dan artikel menarik lainnya dari bakti.id]

Catatan: Artikel ini pernah dipublikasikan di VIVAnews, saya tampilkan di sini sebagai arsip.

Terpopuler

Leave a comment

Tinggalkan Balasan